Solo Riding Lintas Negara dengan Carnet de Passage en Douane (CPD)

IMAG2422

Saya sebetulnya belum banyak melakukan touring dengan sepeda motor. palingan Sunmori dan berkeliling seputaran DKI. Namun sejak ditugaskan negara untuk bertugas di kota yang dekat dengan perbatasan negara, keinginan untuk melakukan touring terutama lintas negara langsung muncul. Terlebih setelah saya merasakan enaknya melakukan perjalanan jauh (pontianak – sambas) dengan Vespa Sprint 150 3V Iget yang saya miliki, keinginan melakukan touring semakin besar. saya sebetulnya sudah cukup sering mengunjungi kota Kuching di negara bagian Sarawak, Malaysia. Hampir  semua semua cara ke Kuching dari Sambas sudah saya coba, mulai dari menumpang mobil orang (hitchhiking), naik “taksi”, bus sampai menggunakan mobil pribadi. Terlebih saya pernah menyewa motor untuk berkeliling di kota Kuching yang mana menurut saya sangat nyaman karena jumlah pesepeda motor di Kuching memang tidak terlalu banyak dan para pengendara motor dan mobilnya sangat tertib berlalu lintas.

Hal pertama yang saya lakukan untuk mewujudkan niat saya touring lintas negara ini adalah browsing perihal dokumen-dokumen atau “paspor” yang diperlukan motor saya untuk masuk ke negara lain. Dokumen yang diperlukan tidak lain tidak bukan adalah Carnet De Passage en Douane (CPD). singkatnya, CPD adalah sebuah dokumen ekspor impor sementara untuk kendaraan bermotor yang memudahkan rider-rider seluruh dunia untuk berkelana tanpa harus melalui banyak birokrasi terkait ekspor impor sementara kendaraan bermotor. Saat itu hanya 2 informasi dalam berbahasa Indonesia yang cukup membantu yang saya temukan di Internet. yang pertama informasi dari dari website Ikatan Motor Indonesia dan yang kedua adalah blog milik Steven Langitan (http://stephenlangitan.com/).

saat itu saya langsung mengkontak 2 pihak. pengurus IMI pusat dan IMI provinsi karena menurut websitenya, IMI memiliki pengurus daerah di Kalimantan Barat, provinsi dimana tempat saya berdomisili.saat itu saya diberitahukan kelengkapan apa aja yang harus saya penuhi untuk melakukan pengajuan CPD. salah satu yang utama adalah menjadi anggota IMI. jadi yang pertama saya lakukan adalah melakukan pengajuan pembuatan kartu anggota IMI. saat itu saya ditanyakan klub apa yang saya ikuti, satu-satunya klub yang saya ikuti adalah Nissan March Indonesia atau March-i, sebuah komunitas pengguna mobil Nissan March yang resmi dan diakui oleh Nissan Indonesia. btw, persyaratan yang saat itu diberikan selain kartu anggota IMI adalah:

  • SIM
  • Paspor
  • STNK
  • BPKB
  • Faktur Kendaraan
  • foto kendaraan dari depan, belakang, samping kanan dan kiri
  • foto nomor rangka dan mesin

serta mengisi formulir, declaration form dan surat pernyataan yang filenya bisa didapat di website serta menghubungi pengurus pusat IMI.

Berdasarkan informasi yang awalnya saya dapatkan lamanya pembuatan CPD adalah 14 hari kerja. namun sayang, saat itu respon dari IMI Peng prov kalbar sedikit kurang baik sehingga menyebabkan pengurusan CPD saya hampir 6 bulan. CPD saya baru diproses setelah saya berhubungan langsung dengan pengurus pusat IMI yang memang bertugas dalam memroses CPD. prosesnya hanya 14 hari kerja saja. Di minggu ke-tiga dokumen CPD sudah sampai ditangan saya.

26166652_10155413076218795_4510078550732398464_n

Dokumen CPD datang 1 minggu sebelum tahun baru dan saat itu saya tidak bisa libura jauh-jauh dari kota sambas karena takut ada tugas kantor yang mungkin muncul tiba-tiba, sehingga saya memutuskan untuk melakukan perayaan pergantian Tahun di Kuching. Tentu saja dengan menggunakan paspor dan CPD. persiapan saya tidak banyak. karena saya sudah hafal dengan kondisi perjalanan dari sambas menuju kuching. sehingga saya menya menyiapkan perlengkapan seadaanya dan yang penting-penting saja. bawaan saya bahkan tidak terlalu banyak. hari sabtu 30 Desember 2017 saya berangkat menuju perbatasan pukul 9 pagi. jarak dari sambas ke Pos Perbatasan Lintas Negara (PLBN) Aruk kurang lebih 1 1/2 jam perjalanan. namun saya baru tiba pukul 11.30 di PLBN Aruk karena sepanjang jalan saya banyak berhenti untuk mengambil foto. perjalanan dari sambas menuju aruk saat ini sudah bisa dilalui dengan baik karena 98% aspal mulus. hanya ada 1 jembatan di desa Sajingan yang masih dalam proses pembangunan dan bukit yang masih dalam proses pengaspalan. Sampai di PLBN Aruk saya langsung mencari petugas Bea Cukai untuk memroses dokumen CPD saya. prosesnya cukup mudah namun sedikit memakan waktu karena petugas Bea Cukai Indonesia masih belum cukup familiar dengan dokumen CPD ini. informasi yang saya dapat, baru 2 atau 3 motor yang melewati PLBN Aruk. yang pertama adalah motor Inazuma milik Steven Langitan yang terkenal dengan touring 3 negara keliling pulau kalimantannya. proses ini saya lewati dengan santai, tentu saja karena PLBN Aruk merupakan wilayah kerja dari kantor saya sehingga saya sangat familiar, baik dengan lingkungan dan petugas-petugas yang bertugas didalamnya.

setelah selesai proses keimigrasian (paspor) dan bea cukai (cpd) saya langsung menuju Pos perbatasan Biawak, malaysia juga untuk menyelesaikan proses keimigrasian dan CPD. sama seperti di sisi Indonesia, petugas bea cukai malaysia juga masih belum cukup familiar dengan dokumen CPD ini. namun lagi-lagi seperti waktu menunggu proses penyelesaian di PLBN Aruk, saya menikmati prosesnya karena memang saya sudah cukup mengenal beberapa petugas-petugas di pos perbatasan Biawak, Malaysia. justru saya banyak mendapat pertanyaan terkait pembuatan CPD ini karena beberapa dari petugas ini setahu saya juga suka touring dengan motor.

selesai semua proses di pos perbatasan Biawak, saya langsung tancap gas ke Kuching. satu-satunya ketakutan saya saat itu adalah saat saya melihat langit. langit mulai kelabu. saya hanya berharap tidak turun hujan selama perjalanan saya menuju Kuching. bersyukur hanya gerimis kecil yang saya hadapi sehingga tidak perlu mengeluarkan jas hujan. kondisi jalan dari Biawak menuju kuching, saat ini kurang baik. banyak jalan yang bergelombang dan tidak rata sehingga saya tidak bisa memacu kendaraan saya secara maksimal. bisa dibilang saya cukup hafal dengan kondisi jalan menuju kuching dan saya juga memahami mengapa jalan ini tidak diperbaiki. pemerintah Sarawak sedang giat-giatnya membangun jalan 4 ruas yang nantinya akan menghubungkan jalan Trans Borneo dari ujung kinabalu ke ujung Sarawak.

26165887_10155420039583795_8767958447115171333_n

saya sampai di kota Kuching pukul 2.30 waktu malaysia. hanya butuh satu setengah jam dari Biawak menuju Kuching dan yang pertama saya lakukan adalah mencari restoran yang menjual Laksa Sarawak. Berhubung saya sudah cukup sering ke Kuching, tentu saya tau harus kemana mencari Laksa Sarawak yaitu di foodcourt Viva City Mall. disana ada salah satu kios yang menjual laksa sarawak yang enak yaitu Madam Tang’s. ini favorit saya setiap berkunjung ke Kuching. selesai makan dan cuci mata di mall saya langsung menuju hotel tempat saya menginap yaitu hotel Place 2 Stay Riverside yang lokasinya dekat sekali dengan Kuching Waterfront dan tempat wisata lainnya. harganya juga cukup murah, yaitu RM 50 permalam plus RM 10  pajak hotel permalam. 31 Desember pagi-pagi saya sudah jalan untuk foto-foto di tempat-tempat ikonik kota kuching (mumpung masih sepi) dan langsung menuju daerah Santubong dimana terdapat Damai Beach dan Sarawak Cultural Village. perjalanan menuju santubong benar-benar saya nikmati karena sepanjang jalan banyak tempat yang bisa menjadi spot foto dengan pemandangan yang bagus. Sarawak CUltural Village pun menurut saya adalah tempat wisata yang wajib dikunjungi. sisa waktu saya habiskan di mall karena hujan turun sangat deras sampai malam. untung malamnya  hujan berhenti dan langit sangat cerah sehingga perayaan pergantian tahun berjalan lancar dan seru.

 

1 januari 2018 pagi saya kembali berkeliling kota kuching sambil menikmati berkendara motor di kota ini. luar biasa enak. sepanjang jalan saya hanya menyalakan klakson ketika menyapa sesama pengguna vespa yang say temui di jalan, selebihnya klakson hampir tidak pernah saya pakai. dengan jalan yang bagus dan pengendara yang tertib membuat saya benar-benar menikmati berkendara. cuma butuh modal google maps untuk berkeliling kota. kebetulan saya punya  nomor malaysia yang paket datanya biasa saya pakai ketika berkunjung ke Malaysia. siangnya kota kuching kembali diguyur hujan yang sangat lebat sehingga lagi-lagi saya menghabiskan waktu di Spring mall, salah satu mall besar di kuching.

2 januari pukul 5 pagi saya berangkat kembali ke Sambas, kebetulan border baru dibuka pukul 7 waktu malaysia. biasanya, kalau saya berangkat jam 5 pagi, saya akan sampai di perbatasan pukul 7, jadi tidak perlu menunggu lama untuk border buka. perjalanan pulang kali ini benar-benar memberikan tantangan baru buat saya dimana saya berkendara motor dipagi buta diwilayah pegunungan yang penuh dengan kabut pekat. saya tentu tidak bisa memacu kendaraan dengan cepat. kecepatan maksimal saat itu 30-40 km/j. ditambah dengan penerangan jalan yang hampir tidak ada di beberapa ruas jalan mmembuat saya harus ekstra hati-hati. namun sepertinya nasib baik bersama saya, ditengah perjalanan sinar pantulan dari bulan purnama membantu memberikan penerangan di tengah pegunungan yang gelap. saya mampir di kota Lundu untuk mengisi bensin sebelum masuk kembali ke wilayah Indonesia. karena lundu adalah kota diwilayah malaysia yang terdekat dari border. tidak lupa saya mengisi jerigen dengan bensin untuk cadangan di perjalanan. sampai di pos perbatasan biawak, saya langsung menyelesaikan proses keimigrasian dan beacukai Malaysia dan lalu beristirahat di PLBN Aruk untuk bersilahturahmi dengan teman-teman di Imigrasi di PLBN Aruk. hampir 2 jam saya nongkrong di PLBN Aruk sapai saya rasa cukup dan melanjutkan perjalanan kembali ke Sambas. Dari perjalanan ini niat menjelajah dan touring saya semakin besar. sehingga saya memutuskan untuk mencoba touring lebih jauh lagi, yaitu ke Brunei Darussalam.

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Shanghai World Financial Center

 

 

 

IMAG0661_resize 
        Onboard ke Shanghai kali ni gw ditemani partner yang sepertinya gak doyan jalan-jalan dan kurang asik buat dibawa jalan. Dugaan gw jadi kenyataan pas gue dah sampe di Shanghai. Hari itu gue emang pengen banget ke sebuah kota tua yang namanya Zhoujialou dan kalo sempet ke Shanghai World Financial Center. Hari itu gue juga lagi pengen jalan-jalan sendiri. Makanya sebelum gue jalan gue ceritain rencana perjalanan gue hari itu ke partner gue lengkap dengan jarak, waktu dan biaya yang keluar (dengan sedikit lebay). Sesuai rencana pertner gue gak mau hehehe jahat ya gue? Bodo ah…

Tujuan hari itu yang jelas Zhoujialou, tapi gue skip dulu deh ceritanya. Langsung ke Shanghai World Financial Center (SWFC). SWFC ini merupakan salah satu dari 3 tower yang naik-able di wilayah pudong kota shanghai. Letaknya persis diseberang sungai dari The Bund. Tower ini cukup mencolok berhubung bentuknya yang memang beda sendiri. Bentuknya persis kayak alat buat buka botol dan menjulang dengan tingginya sehingga keliatan dari jauh. Pengen nyebut Shanghai Tower tapi tapi takut ketuker ama Oriental Pearl Tower yang juga kadang disebut Shanghai Tower dan memang lokasinya sangat berdekatan. Selesai jalan-jalan Zhoujialou gw langsung ke tower ini pake MRT. Turun di stasiun Lujiazui, keluar stasiun tinggal jalan dikit. Gak bakalan nyasar karena keliatan banget dari luar stasiun. Jalan ke SWFC sendiri bisa dibilang jalan-jalan penuh dengan sesi foto. Pemandangannya fotogenik banget.

IMAG0473_resize

Anyway berbekal informasi dari teman-teman terdahulu bahwa naik SWFC adalah sekitar RMB 140, gue langsung menuju loket penjualan tiket yang ada dibawah gedung. Ternyata harga tiketnya naik jadi RMB 180 atau sekitar RP. 300.000 ribuan. meh..

begitu masuk, pengunjung pertama-tama diberikan sedikit penjelasan melalui video tentang Shanghai dan SWFC. setelah itu masuk keruangan yang isinya maket SWFC dan sekitarnya. setelah itu langsung menuju elevator menuju lantai 97. oh iya di SWFC ini ada 3 lantai yang bisa dikunjungi yaitu lantai 94, 97 dan 100. lantai 94 adalah resto dan penjualan souvenir, lantai 97 dan 100 untuk observatorium . lantai pertama yang dikunjungi adalah lantai 97 dimana pengunjung bisa melihat pemandangan kota Shanghai. lantai 97 ini ada di bagian bawah “pembuka botol”. gak begitu banyak yang bisa dilihat disini selain pemandangan kota. atraksi sebenarnya ada di lantai 100 yang letaknya berada di bagian atas “pembuka botol” Di lantai 100, pengunjung juga bisa menyaksikan pemandangan kota Shanghai baik di bagian Pudong dan Puxi (seberang sungai /The Bund). kalau gak suka pemandangan kota dari atas tower sih mungkin bakalan ngerasa bosen karena praktis tempat ini hanya menyajikan atraksi-atraksi seperti pemandangan panoramik dan lantai kaca. itu pun bakalan menambah bosen karena kalo siang-siang hampir seluruh kota Shanghai tertutup kabut akibat dari polusi kendaraan bermotor. pemandangan sesungguhnya akan mulai terlihat ketika malam tiba dimana seluruh lampu-lampu kota Shanghai mulai bermunculan dan mengalahkan kabut polusi. Dari sini pula kita bisa dapet pemandangan lengkap The Bung ditambah dengan ikon kota Shanghai yaitu Oriental Pearl Tower. Cakep!

IMAG0522_resize

IMAG0534_resize

Dengan asas ogah rugi, gue nonkrong di lantai 100 sampe malam tiba. lumayan juga nunggu sejam lebih demi hanya untuk mendapatkan foto-foto malem hari. Begitu mulai gelap, makin banyak pengunjung yang dapat khusus untuk foto-foto. sepertinya dada beberapa photografer profesional lengkap dengan peralatan yang canggih, sementara gue cuma berbekal kamera hape. Gak masalah, kualitas kamrea hape gue juga bagus kok  heheheh. puas foto-foto dan liat-liat pemandangan, gue turun ke lantai 94 untuk liat-liat kafe dan beberapa souvenir. sapa tau ada yang bagus. di lantai 94 ini seinget gue cuma ada 1 kafe kecil yang mana kalau kata temen gue bisa nonkrong disitu cuma modal beli minuman kaleng aja. di bagian souvenirnya gue langsung nyari magnet kulkas yang kira-kira cuma dijual ditempat ini dan gue beli beberapa set magnet. total belanja magent doank RMB 120, tapi ya demi sebuah ke-ekslusif-an maka sebaiknya jangan disesali.

IMAG0581_resize

IMAG0643_resize

IMAG0649_resize

selesai belanja gue langsung turun berhubung perut juga mulai keroncongan. saat itu yang ada dikepala cuma lezatnya sate khas Uyghur didekat hotel. anyway, pemandangan malam di bawah sini juga gak kalah bagus. kalo ngeliat ke atas, kita disuguhkan pemandangan cantik dimana awan-awan berterbangan melewati 3 gedung pencakar langit yang saling berdekatan. belum lagi ditambah lampu-lampu di Oriental Pearl Tower. emejing!

IMAG0678_resize

IMAG0712_resize

IMAG0687_resize

 

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Milsons Point & Harbour Bridge

Onboard ke Sydney kali ini sebetulnya bener-bener gak tau mo kemana. pokoknya browsing dan pergi. Selesai belanja barang-barang yang biasa dibawa buat oleh-oleh di Paddys Market, gue balik ke hotel dan memulai perjalanan ntah kemana. btw, kebeneran gue dapet kamar yang viewnya ke jalan George Street. sambil ngopi-ngopi cantik di kamar tiba-tiba gue kepikiran buat ngeliat Opera House dan Harbour Bridge dari seberang sungai. peta MRT menunjukan bahwa stasiun terdekat dari seberang sungai adalah Milsons Point Station. Berhubung tiket kereta lumayan mahal, sebenernya pengen juga nyoba naik bus yang konon katanya lebih murah. Tapi begitu nanya bagian Concierge, mereka bilang gak ada bus yang langsung ke Milsons Point dari seberang hotel. gagal deh.

IMAG1387

Pemandangan dari kamar. maknyus

Akhirnya gue ke stasiun Central yang kebeneran memang hanya beberapa meter dari hotel. tiketnya lumayan AUD 3.75. 3 stasiun doank segitu harganya. mahal cuk! Abis beli tiket langsung jalan ke platform 16. gak lama kemudian kereta dateng. gue jelas milih berdiri di tengah sambil celingak-celinguk ngeliatin pemandangan. ternyata kereta ini tidak melewati bawah tanah untuk menyebrang sungai, tetapi ikut naek diatas Harbour Bridge. pemandangannya lumayan okeh, cuma sayang gue terlalu tersepona sampe lupa foto-foto.

IMAG1398

sampe di Milson Point langsung liat peta yang ada di stasiun. ternyata jam 2 siang itu adalah waktu pulangnya anak sekolahan dan stasiun Milsons Point ini juga merupakan tempat ngetem bus-bus sekolah. Dari stasiun gue berjalan menyusuri bagian bawah jembatan menuju tepi sungai. pemandangannya cukup spektakuler *halah*. asik banget sebenernya buat nokrong-nonkrong. terutama malem, karena kita bisa liat lampu-lampu kota diseberang sungai, tepatnya didaerah George Street dan Opera House. gue jalan sepanjang jalanan ditepi sungai sambil ngeliatin air yang ternyata bening dan bersih. dasar sungainya sampe keliatan.

IMAG1404

IMAG1416

IMAG1417

IMAG1430

setelah jalan-jalan tanpa arah ternyata gue sampe di sebuah arena bermain yang namanya Luna Park.  Pemandangan Harbour Bridge dan Opera House dari sisi ini tenyata luar biasa. ditambah dengan matahari yang mulai miring (jam 4 sore). Ternyata gak cuma gue yang melakukan sesi foto-foto di bagian ini, rupanya banyak juga yang menikmati pemandangan sore di daerah Luna Park ini. bgitu mulai agak2 gelap, gue memutuskan untuk berjalan menyusuri Harbour Bridge yang memang terdapat jalan untuk pejalan kaki menyebrangi sungai ini.

IMAG1485

IMAG1489

Nyebrangin sungai dengan berjalan kaki ini ternyata lumayan juga, bukan jauhnya, tapi bikin jiper. terutama kalo ngeliat kebawah. ngeri-ngeri sedap heheheh. Karena sangking tingginya. tapi pemandangan dari atas sini juga gak kalah oke dengan yang dibawah tadi. jadi bisa liat ujung sungai di South Head sana. ngeliat garis horizon di kejauhan. jalur pejalan kaki ini penuhi oleh pagar-pagar besi yang tinggi dan menyulitkan orang untuk memanjatnya. Wajar aja sih, kalo gak dibikin besi-besi panjang begini, pasti jadi tempat favorit buat bunuh diri. Pas di tengah-tengah jembatan, tiba-tiba gue inget dulu bokap pernah bilang dia pernah ikutan tur naik ke puncak lengkungan Harbour Bridge. pas ngeliat keatas, ternyata memang ada yang lagi ikutan itu tur. keliatan dari bawah lagi pada asik foto-foto. gue mah ngeri. dari sini aja udah ngeri, gimana naek keatas…..mana seinget gue ini tur harganya lumayan mahal. AUD 250. meh.

IMAG1505

IMAG1513

IMAG1535

IMAG1543

ujung Harbour Bridge ini ternyata daerah yang terkenal dengan nama The Rock. sayangnya karena kesana udah malem jadi gak bisa liat area komersial di daerah ini. mau foto gedung-gedung lamanya juga udah keburu gelap. kamera hape gak cukup mumpuni kalo foto malem-malem. Dan Perjalanan kali ini diakhiri dengan sesi foto-foto sambil naik Ferry menuju Darling Harbour dari Circular Quay Station. Maklum udah laper berat. Hurricane, Aku Datang!

IMAG1655


 

 

Pengeluaran :

  1. Tiket Kereta Central – Milsons Point AUD 3.75
  2. Tiket Ferry Circular Quay – Darling Harbour :  AUD 6.50
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Daytrip to Zhujiajiao

IMG_3053_resize

IOB kali ini gue ke Shanghai lagi, yang ketiga kalinya secara berturut-turut. Agak bingung juga kenapa bisa begitu. nah kali ini, kalau biasanya berdua ama temen, kali ini gue perginya sendiri, karena partner gue bilang dia maunya tek-tok. ya gue sih seneng-seneng aja ya. jadi bebas jalan-jalan kemana-mana heheheh.

Zhujiajio, gue nemu ini tempat sebetulnya karena gak sengaja baca-baca peta yang gue dapet dari stasiun maglev. gak kayak peta-peta gratisan lainnya, di peta ini cukup lengkap dan cukup baik hati ngasih tau dimana tempat-tempat wisata yang okeh punya termasuk ancient town. di peta itu nunjukin juga beberapa ancient town di sekitar kota shanghai, termasuk salah satunya adalah Zhujiajiao ini. kalo diliat dari letaknya emang tempatnya luar kota shanghai.

Untuk menuju tempat ini sebetulnya cukup mudah, kita tinggal naek bus yang menuju Zhujiajiao dari terminal bus bus di jalan Pu’An Road. letaknya gak jauh dari People Square. busnya pun memang tujuan akhirnya adalah kota tua ini. Nah yang jadi masalah adalah kalau kita gak bisa ngebaca tulisan china, karena semua ditulis dalam bentuk hurup china. untung di peta yang gue dapet ditulis ada hurup china disetiap tempatnya, jadi tinggal nyocok-nyocokin bentuk hurupnya dan modal nanya pake bahasa tarzan. ini bus juga sistemnya bgitu tempat duduk penuh dia brangkat. Pas kemaren sih lumayan cepet penuh. yang orang asing sepertinya gue doank, sisanya orang2 shanghai yang pengen jalan-jalan dan penduduk setempat. harga tiketnya juga lumayan murah, cuma 12 yuan atau sekitar Rp. 20.000. dan lama perjalanan kurang lebih 1 jam 30 menit.

Sampe di terminal Zhujiajiao, kita tinggal keluar dari terminal dan langsung belok kiri. papan petunjuk juga cukup jelas dan besar. ada beberapa tukang becak yang nawarin jasa, tapi saran gue sih mending jalan. deket banget soalnya. sampe di Zhujiajiao ini kesan pertama yang gue dapet adalah ini tempat China banget. banyak toko-toko gak jelas, bau yang mungkin bisa gue bilang China banget dan agak2 jorok. pas awal-awalnya sih agak2 kecewa juga ngeliat bangunan-bangunan yang ternyata nyatu ama bangunan baru, tapi bgitu masuk lebih dalem lagi…..baru keliatan bangunan-bangunan china tempo doeloe, persis ama yang selama ini gue liat di film-film china jadoel. Meski banyak yang beralih fungsi jadi toko tempat jualan berbagai macam barang yang bisa dijual (terutama sapi kaki pendek), tapi bangunan bangunannya masih tetap menggunakan bangunan lama. ada beberapa yang sudah dimodifikasi biar keliatan agak-agak modern.

IMG_3057_resize

Cukup banyak restoran-restoran atau cafe-cafe yang bisa dibilang cukup cozy untuk nokrong-nonkrong sambil menikmati pemandangan dan suasana di kota tua ini. harganya juga cukup bervariatif dan kebanyakan masih bisa dijangkau ama dompet gue yang tipis inih. kalo males coba-coba dan pengen tetap menikmati gaya hidup barat, masih ada starbuck di deket pintu masuk, dan juga KFC lalu Lawson. bahkan sepertinya sebentar lagi bakalan ada mall kecil deket pintu masuk yang isinya brand-brand internasional. ampun.

IMG_3063_resize

Setelah keliling-keliling ini kota tua ini baru ngeh kenapa disebut dengan Ancient Water Town. kota ini memang benar-benar dikelilingi sungai (air) dan antar wilayahnya dihubungkan dengan banyak jembatan. atraksi utamanya selain bangunan-bangunan tua juga wisata menyusuri sungai-sungai diantara bangunan-bangunan tua ini dengan menggunakan sebuah perahu yang dapat disewa oleh pengunjung yang sayangnya gak sempat gue coba. tapi kembali sayang seribu sayang, tempat ini  lumayan jorok, seperti yang gue bilang sebelumnya. China Banget

terlepas dari china bangetnya itu, ini tempat memang cukup menakjubkan. kita masih bisa ngeliat sekilas bagaimana kota-kota tua di china jaman doeloe. siapapun yang ke shanghai setidaknya, minimal, mampir ke kota ini.

Photos

IMG_3109_resize IMG_3107_resize IMG_3103_resize IMG_3099_resize IMG_3095_resize IMG_3084_resize IMG_3065_resize   IMG_3051_resize IMG_3049_resize IMG_3045_resize IMG_3034_resize

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Tek-Tok

tektok adalah sebuah istilah yang terkenal di kalangan petugas imigrasi di bandara soekarno hatta (dan ngurahrai) untuk petugas IOB yang pergi melaksanakan tugas Immigration On Board (IOB) dan pulang keesokan harinya tanpa berisitrahat layaknya tugas IOB seperti biasanya. misalnya gue berangkat ke Narita tanggal 21, kan seharusnya pulang tanggal 23, tapi karena tektok, jadinya pulang tanggal 22. Ga nginep. baru nyampe di tempat tujuan langsung pulang lagi ke Indonesia.

penyebab utama terjadinya tektok ini adalah karena petugas yang seharusnya berangkat itu tidak jadi berangkat, sehingga yang berangkat hanya satu orang. karena untuk melaksanakan IOB sepesawat itu lumayan berat dan takutnya waktunya tidak cukup, maka dipanggillah bala bantuan dari jakarta untuk melaksanakan tugas IOB tersebut. Berhubung tugas Tektok ini cukup melelahkan, tidak banyak petugas-petugas yang mau melaksanakan IOB dengan cara tektok ini. kebanyakan pengennya jalan-jalan dulu atau minimal istirahat. hanya segelintir orang yang mau. Di kala jumlah penumpang lagi banyak-banyaknya, petugas-petugas spesialis tektok ini sebetulnya sangat membantu. cuma sayang sekarang berhubung jumlah IOB dibatasi, petugas-petugas yang biasa tektok ini mulai sulit untuk membantu teman-temannya yang berangkat sendirian.

gue bukan yang termasuk doyan, tapi kalo terpaksa ya hayu-hayu ajah. yaaa gue pada prinsipnya kalo bisa jalan-jalan dulu keliling kota yang gue datengin. Tapi prinsip ini pada akhirnya runtuh juga karena situasi. beberapa waktu lalu situasinya memaksa gue dan rekan untuk tektok, sehingga akhirnya ngerasain juga tektok. setelah gue jalanin, ternyata asik-asik aja. maksud gue, berhubung gue juga hampir ga pernah istirahat setelah sampe (alias langsung ngabur alias jalan) jadi sebetulnya ga terlalu masalah. capek sih capek, cuma menurut gue sama lah ya capeknya sama kayak gue langsung jalan. malah lebih capek langsung jalan walau biasanya kalo kota-kota macam seoul dan narita gue punya kesempatan untuk istirahat selama perjalanan karena jarak yang cukup jauh antara hotel dan kota. Cuma ya itu….gue jadi gak bsia jalan-jalan.

tapi ada sisi positifnya juga, duit yang keluar cuma dikit karena barang-barang yang dibeli hanya terbatas di bandara. kayak kemaren ke tektok ke sydney, yang gue beli cuma beberapa coklat dan magnet kulkas yang kalo dikalkulasiin cuma AUD 30. Dibanding kalo gue jalan minimal abis $80 karena sisa $100 pasti gue simpen.
Tapi buat gue sih, kalo bisa mah gak tektok ya. apalagi kalo ke jepang. walau hari ini hampir gue meruntuhkan prinsip gue yang lain dengan melaksanakan tektok ke jepang. walau untung gak jadi. kalo jepang mah, kalo bisa jangans ampe tektok. gue masih pengen menikmati setiap detik waktu gue di kota tokyo 🙂

Posted in work | Tagged | Leave a comment

On Board Duty : Sydney 15 Juni 2013

sepertinya mulai sekarang gue bakalan ngeposting trip report tugas-tugas immigration onbard gue. dari pada ni blog kosong hahaha. yaaa sebagai pembuka kali ini adalah SYDNEY. kebetulan kemaren baru berangkat soalnya. jadi setidaknya dimulai dari yang paling fresh!

IMAG1485_resize

The Trip

sebetulnya jadwal ke sydney ini bukan jadwal gue. jadwal seorang teman di grup yang tidak bisa berangkat karena harus menemui istri dan anak yang baru berusia 2 bulan di batam sana. sehingga kemudian jadwal ini diberikan ke gue karena kebetulan gue memang belom pernah ke sydney dan visanya baru keluar sebulan lalu. jadwal onboard ini sebetulnya hanya diberikan 1 kali dalam sebulan. namun pada kenyataannya ga semua bisa menjalankan tugas ini karena alasan-alasan tertentu yang membuat mereka tidak bisa berangkat dan kemudian memberikan jadwal ini kepada orang lain.

jadi awalnya ternyata partner gue tidak bisa berangkat dan orang kepegawaian meminta gue untuk mencari penggantinya. ternyata ga dapet.  kemudian dicariin deh sama kepegawaian dan kemudian penggantipun didapat. ternyata oh ternyata partner baru gue juga baru pertama ke sydney juga *tepok jidat

pas jam 9 malem, seperti biasa  kita ngumpul di “Sentral” alias konter imigrasi keberangkatan di T22 Soetta.  Seperti biasa rutinitas ngambil alat dan kartu clearance gue lakukan sendiri. biar cepet. inisiatif aja. sementara checkin mau ga mau musti nunggu partner dateng karena harus nuker SPJ dengan tiket dan mengambil uang saku di kantor Manager on Duty Garuda. Salah satu enaknya jadi orang imigrasi di bandara itu adalah bisa checkin seenak jidat dimana aja hehehe.

boarding pass di dapat, minta cap-in paspor ama temen, trus nunggu sampe waktu boarding tiba. proses boarding pun sebenernya ada “aturannya” seperti misalnya permisi atau ngelapor ama Purser kalau petugas IOB sudah masuk pesawat. petugas2 IOB ini pun punya tempat duduk sendiri di pesawat, yaitu kursi 20 A-C deket pintu darurat Y Class. jadi kalau pergi ke Narita, Osaka, Seoul, Shanghai, Sydney, gampang ngeliat mana orang imigrasi. liat aja siapa yang duduk di kursi 20 A-C.

Pesawat saat itu take off sekitar jam 00.10. sedikit delay akibat traffick Soetta yang lagi padet-padetnya. lama perjalanan kurang lebih 7 jam dan waktu di sydney 3 jam lebih cepet dai jakarta. jadi kurang lebih nyampe sekitar 10 pagi waktu sydney. Yang agak berbahaya sebetulnya karena 2-2nya baru pertama kali ke Sydney. selama ini baisanya minimal ada 1 yang sudah pernah berangkat. jadi tau musti ngapain dan kemana. lah ini….2-2nya blah bloh.

pas landing di sydney untung ada station manager dan ground handling yang ngarahin musti kemana. setelah itu langsung menuju konter imigrasi buat di cap. saat itu ketemunya ama petugas custom cewek, cakep. berhubung ga ada bagasi langsung menuju pintu keluar dan dikasih Line ke 8 yang artinya tanpa pemeriksaan sementara partner gue dapet line 1 yang mana barang-barangnya musti di periksa. selesai pemeriksaan langsung menuju bus bareng semua kru garuda karena petugas IOB barengan 1 hotel sama kru di Mercure Hotel Sydney.

check in, naro barang, mandi, ganti baju, istirahat bentar trus langsung jalan. Berhubung 2-2nya baru ke sydney, tujuannya saat itu jelas Opera House. berdasarkan info yang didapat, KATANYA, jarak dari hotel ke Opera House tidak jauh dan bisa ditempuh dengan jalan kaki. kenyataannya jaraknya lumayan. lumayan bikin pegel. Tapi memang ada untungnya juga jalan, bisa liat isi kota sydney dan skalian window shopping heheheh.

berbekal map dari aplikasi Tripadvisor di henpon gue, akhrinya kita sampe juga di Opera House. saat itu di sekitar opera house rame. mungkin karena hari minggu. sampe sini tentu tidak lupa foto-foto. termasuk foto narsis. keliling2 gedung opera house buat nyari spot foto yang cakep. alhasil dapet beberapa sih. cuma sayang karena ke siangan, jadinya backlight. padahal pengen foto harbour bridge yang tersohor itu. karena waktu yang mepet dan partner yang sepertinya tidak begitu tertarik mengeksplorasi daerah, jadinya yaa…..hanya sekitar2 situ aja. padahal pengen keliling-keliling ke Botanical Garden disamping Opera House. Mau Nonkrong di cafe bawah juga sepertinya susah. padahal pengen juga moto daerah sekitar Opera House ketika malam tiba. kebetulan sebagai bagian dari Southern Hemisphere, ketika belahan bumi bagian utara musim panas, di selatan justru kebalikannya. oleh sebab itu selain udaranya yang cenderung dingin (12-15 drajat celcius di siang hari),  matahari di Sydney lebih cepat tenggelam. jam 5 udah mulai gelap. gelap juga berarti toko-toko mulai tutup terutama Paddy’s yang tersohor akan barang murahnya. damn!

jarak dari Opera House ke Paddys untuk ukuran jalan kaki sebetulnya ga jauh2 amat. 15 menit jalan kaki dan berada diantara Operahouse dan Hotel tempat tinggal. jadi bisa skalian pulang. pas sampe di paddys ada kejadian lucu. pasarnya sebenrnya udah tutup, bgitu kita mau coba masuk, security depan pintu, bule,  bilang “udah tutup mas!”. tau aja kita orang indonesia hahahahaha bangke.

ga jadi belanja oleh-oleh di Paddys, jadinya ke sekitar paddys yang ternyata chinatown (pantesan murah). untungnya malem-malem gitu masiha da toko souvenir yang buka. setidaknya bisa belanja beberapa oleh-oleh buat orang rumah. selesai belanja kita balik ke hotel buat istirahat karena partner gue katanya pinggangnya udah mau copot sangking capeknya jalan.  sementara gue palingan cuma betis yang pegel. rencananya abis sejam istirahat gue mo balik lagi ke opera buat foto city lights-nya, cuma rencana tinggal rencana….gue ketiduran. alhasil cuma nonkrong di McD seberang hotel buat numpang wifi. tololnya ternyata di hotel ada wifi gratis buat kru garuda. bgitu tau ada wifi gratis langsung balik ke hotel dan wifi-an di hotel.

The Food

seperti apa yang dibilang oleh rekan-rekan yang udah duluan disini, pangan di sydney itu MAHAL. bahkan lebih mahal dari jepang. ga ngira-ngira. di jepang air mineral masih dapet lah harga 100 yen (rp. 10.000)., di sydney air mineral di banderol AUD 3-5. buset….itu sekitar 30-50 rebu. mo beli makanan cemilan juga sama. ampun deh. Yang konyol, seorang teman pernah bercerita kalo dia hampir didenda AUD 200 di bea cukainya Aussie hanya karena bawa makanan pesawat (roti isi daging). Untung sebelumnya gue ga jadi bawa itu roti. padahal kalo IOB ke Jepang, Korea dan Shanghai biasanya gue bawa buat pengganjal perut di jalan. tapi sepertinya khusus untuk sydney kegiatan food gathering ini ga bisa di pake.

untuk makan malam, kemaren gue memilih makan KFC. ada alasan khusus kenapa makan di KFC. sebetulnya gue kemakan omongan temen-temen disini sih. konon katanya KFC paling enak ada di Sydney. well….ada betulnya sih. ntah kenapa dagingnya lembut banget. rasanya juga pas, sayangnya gue lupa bawa sambel dari sini. kayaknya bakalan lebih enak lagi heheheh. Gue beli satu paket sekitar AUD 9. isinya : pepsi kaleng, ayam goreng 3 potong, 1 roti dan 1 mashpotato.  kenyang gila. Paket ini sebetulnya mirip ama paket di Malaysia. isinya juga sama. bedanya ayamnya lebih enak. mungkin kalo ayam original KFC Indonesia dagingnya kayak KFC Sydney mungkin bakalan paling enak sedunia.

The Oleh-Olehs

setiap perjalanan, gue selalu membawa oleh-oleh buat keluarga. yang wajib dibeli tentu saja magnet buat kulkas. ini pesenan khusus nyokap. so gak mungkin ga gue bawa dan beli.   Karena partner gue juga blah bloh, jadi sebetulnya kemaren itu bingung juga mau beli apa. akhirnya gue cuma beli coklat 2 bungkus itu juga beli di 7-11 dan sekitar 7 buah magnet. hasil beli di chinatown dan airport. untuk magnet ini sebetulnya harganya masih dalam batas kewajaran. variannya juga banyak.

The Photos

IMAG1217_resize

IMAG1232_resize IMAG1236_resize IMAG1244_resize IMAG1263_resize IMAG1321_resize IMAG1368_resize

IMAG1422_resize  IMAG1492_resize IMAG1512_resize IMAG1546_resize

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Kisah di Ujung Semenanjung : Kesempatan itu ada!

betul, kesempatan itu ternyata ada!  kesempatan buat jalan-jalan tentu saja. jalan-jalan ini bukan hanya jalan-jalan keliling kota Johor dan sekitarnya, tapi juga ke kota lain dan Singapura. sesuatu yang terhitung langka untuk waktu kerja yang gila-gilaan macam ini. sesuatu yang memang sangat-sangat dibutuhkan untuk sedikit mengurangi kepenatan.

suatu hari si bos sepertinya kasian melihat para pekerjanya mulai terlihat stress dengan pekerjaan mereka. berhubung kita disana sudah hampir sebulan, berarti sudah saatnya kita memperbaharui ijin tinggal di Malaysia dengan pergi ke Singapura. sambil memperbaharui, terbesit ide untuk sekalian jalan-jalan melepas penat. Ketika hari minggu tiba, kami diberikan sebuah mobil beserta drivernya untuk mengantar kami menuju Singapura dan Keliling-keliling. biar otaknya fresh lagi hehehe

dengan berbekal uang saku secukupnya dari si bos, akhirnya seerombol orang ini pergi ke singapur dengan menggunakan mobil van milik KJRI dengan plat nomer dengan hurup awal CC. menggunakan mobil CC berarti kemudahan diberbagai urusan. ketika melewati CIQ malaysia di Bangunan Sultan Iskandar, petugas tidak bertanya macam-macam dan begitu juga bgitu melewati CIQ Singapura.

macam orang kampung masuk ke kota, segerombolan ini mulai terpesona dengan jalanan di negeri singapura yang begitu mulus dan tanpa macet. maklum di Jakarta walau di tol dalam kota jalannya juga bumpy dan tentu saja macet selalu. tujuan pertama saat itu tentu saja adalah tempat si maskot dari negeri Singapura yaitu Merlion. layaknya turis tentu saja kita tidak segan-segan dan malu-malu untuk berfoto dengan latar belakang Merlion yang tersohor itu lengkap dengan latar belakang Marina Bay Sands

IMG-20120129-01849

puas foto-foto di Merlion, tujuan selanjutnya tentusaja Orchard. ngapain? belanja tentu saja. sayangnya saat itu urusan pembayaran gaji belum lancar, sehingga menyebabkan keterbatasan dana dalam dompet. keterbatasan dana berarti keterbatasan dalam berbelanja. hal ini tentu saja menjadi hambatan tersendiri karena saat itu yang ada dalam benak adalah “sapa tau ga bisa balik lagi” padahal begitu banyak barang yang ingin dibawa pulang baik itu sandang maupun pangan.

sayangnya waktu jalan-jalan ini berlangsung cukup singkat akibat waktu keberangaktan yang terlalu siang dan menghindari macet yang dipastikan terjadi di Woodland Check Point ketika malam tiba. yang jelas jalan-jalan ini tentu saja bermanfaat bagi setiap peserta karena:

  1. ijin tinggal di Malaysia menjadi lebih lama
  2. jadi tau gimana proses penyelesaian CIQ di Malaysia dan Singapura via darat.
  3. memuaskan hasrat jalan-jalan ke singapura
  4. penyegaran pikiran
  5. cuci mata

sebetulnya memperpanjang ijin tinggal dengan cara ini sebetulnya tidak sepenuhnya dapat dibenarkan. tapi apa boleh dikata, demi tugas negara nan mulia yang belum terselesaikan…..

bantu aja bos…..hehehehehe

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment